Dibalik Semesta : Pelajaran dari Air

Jangan terlalu serius, ambil pelajarannya ^^

Pernah gak kalian bertanya-tanya tentang apakah Air membenci penampang yang membawanya? Atau apakah Kayu membenci api yang membakarnya? Aku sering menanyakan hal-hal yang tidak penting. Dan sering juga menemukan jawaban-jawaban yang logika nya, (sedikit) ada hubungannya terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul. 

Seperti: Apakah Air membenci penampang yang membawanya? Jawabanku atas pertanyaan itu adalah tidak sama sekali. Air tak pernah membenci penampang, walau terkadang penampang membawa Air jatuh dari ketinggian yang tak terkira, membuat Air mendapat julukan lain, yaitu Air Terjun. Air tak pernah membenci penampang walau dengannya ia akan terus bergerak tanpa pernah tau kemana arah dan tujuannya, menjadikan Air disebut-sebut sebagai Sungai. Air punya sifat menerima dan percaya. Menerima apapun bentuk dan model perjalanan yang penampang siapkan. Dan percaya bahwa dirinya sangat di'rindu'kan banyak makhluk Tuhan. 

Air mengajarkan kerendahan hati bagi yang memahaminya. Air selalu hadir untuk memenuhi kebutuhan pembentukan makanan untuk setiap tumbuhan di bumi. Air selalu menjadi tempat untuk setiap makhluk air yang hidup didalamnya. Air menjadi syarat terpenuhinya penghidupan manusia. Air selalu membiarkan dirinya di'manfaatkan' makhluk. Namun, apakah Air pernah mengeluh? Apakah Air pernah berkata "Kenapa kalian terus-terusan me'manfaatkan'kan aku? Sedang aku tidak membutuhkan kalian?!" atau berkata "Kalian tidak bisa seenaknya mengambil manfaat dari diriku. Memangnya apa yang kalian bisa berikan sebagai balasan atas apa yang telah kalian 'manfaatkan'?". Tidak pernah kan? Itulah pelajaran terbaik yang aku dapatkan dari Air. Dan selalu menjadi pembahasan menarik untuk dijabarkan. 



Air juga mengajarkan kesabaran. Karena Air selalu bergerak dari atmosfer ke bumi, dari puncak gunung ke lereng, dari bukit ke lembah dan dari atap rumah ke pekarangan depan. Air selalu sabar walau dia terus jatuh dan jatuh ke permukaan. Tak pernah menuntut Tuhan atas takdirnya. Tak pernah menghujam dirinya ke langit atas pembelaan dirinya yang selalu bergerak ke bawah. Karena Air memahami satu hal yang tidak dipahami banyak makhluk. Semua punya waktunya. Air percaya bahwa itulah takdir terbaiknya. Dan akan ada waktunya, Air bergerak ke atas. Meraba bahkan menggenggam segala permukaan. Meratakan segala yang berantakan. Melahap segala bentuk peradaban. Mematikan api kesombongan. Dan julukan Air diwaktu ini adalah Tsunami.

Satu lagi pelajaran penting dari Air. Rela berkorban. Apakah kau mengetahui siklus Air? Siklus Air adalah perjalanan Air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer menuju bumi lalu berpulang lagi ke atmosfer. Perjalanan pertama, Air yang tinggal dibumi akan pergi ke atmosfer dalam bentuk uap. Uap Air yang terkumpul kemudian membentuk gumpalan yang terlihat bagai kapas atau bahasa lainnya, awan. Air kemudian kembali lagi ke bumi dalam bentuk rintik hujan. Air memasuki permukaan bumi yang disebut tanah, terus berjalan sembari meng-hidup-kan banyak makhluk. Menuju penampang-penampang dan mengisinya. Lagi-lagi menghidupkan segala makhluk yang dilewatinya. Setelah memberi kehidupan dan mencukupi kehidupan banyak makhluk di bumi, Air akan kembali lagi ke atmosfer. Dan proses itu berlanjut secara terus-menerus.

Tidak ada yang bisa mengalahkan besar pengorbanan yang telah diberikan Air. Semoga Air tak akan pernah membenci penampang berupa bumi yang selalu me'rindu'kannya. Semoga Air tetap dengan sikapnya. Dan semoga pelajaran dari Air ini dapat memberikan kesadaran kepada banyak makhluk agar dapat menjaga CINTA TULUS dari Air dan tidak akan MENGKHIANATI nya.

Komentar